← Back to Blog

Havedev

Affiliate Marketing Tidak Bermasalah, Attribution yang Kabur Bermasalah

Affiliate Marketing Tidak Bermasalah, Attribution yang Kabur Bermasalah

Phia, startup shopping yang didirikan Phoebe Gates dan Sophia Kianni, sedang menjadi sorotan setelah laporan Bloomberg menuduh aplikasinya melakukan praktik yang dikenal sebagai cookie stuffing.

Dalam laporan tersebut, Phia disebut dapat mengambil kredit affiliate atas pembelian yang tidak benar-benar dihasilkan oleh aplikasinya. Praktik ini diduga terjadi ketika pengguna berbelanja di retailer online, bahkan jika pengguna datang sendiri atau lewat affiliate lain, lalu extension Phia membuka tab di background dan mengganti referral code dengan miliknya sendiri.

Akibatnya, Phia berpotensi mendapatkan komisi dari transaksi yang sebenarnya tidak ia dorong.

Phia kemudian disuspend dari Impact.com, salah satu platform affiliate dan influencer besar. Perusahaan mengatakan perubahan yang diperlukan sudah dilakukan, dan pengecekan Bloomberg menyebut masalah tersebut sudah diperbaiki.

Namun kasus ini tetap penting, bukan hanya karena nama besar pendiri dan investornya. Kasus ini membuka percakapan yang lebih luas: dalam bisnis digital, siapa yang benar-benar berhak mendapat kredit atas sebuah transaksi?

The Core Update

Phia membangun produk yang cukup mudah dipahami: browser extension untuk membantu pengguna menemukan harga lebih murah dan kode diskon saat berbelanja online. Model bisnisnya memakai affiliate marketing, yaitu Phia mendapat komisi jika pembelian terjadi melalui rujukannya.

Secara prinsip, model ini normal. Banyak publisher, creator, comparison site, coupon tool, dan marketplace partner memakai sistem serupa.

Masalah muncul ketika attribution tidak lagi mencerminkan kontribusi nyata.

Jika pengguna datang dari Wirecutter, iklan brand, email newsletter, pencarian organik, atau langsung mengetik alamat toko, lalu sebuah extension mengambil kredit di tahap checkout tanpa memberi kontribusi yang jelas, maka persoalannya bukan sekadar teknis cookie.

Persoalannya adalah trust.

Retailer membayar komisi karena percaya affiliate membantu membawa pelanggan. Affiliate lain membuat konten, review, perbandingan harga, atau rekomendasi karena percaya sistem attribution akan menghargai kontribusi mereka. Pengguna memakai extension karena percaya tool tersebut membantu mereka, bukan diam-diam mengubah insentif di belakang layar.

Ketika rantai kepercayaan itu terganggu, seluruh ekosistem ikut terkena dampaknya.

The Reality Check

Banyak bisnis digital terlalu cepat melihat attribution sebagai urusan teknis. Cookie, referral code, UTM, last click, session, browser extension, pixel, dan dashboard sering dianggap hanya bagian dari mesin growth.

Padahal attribution adalah bahasa akuntabilitas.

Ia menjawab pertanyaan sederhana: siapa yang membantu menghasilkan transaksi ini?

Kalau jawabannya tidak jelas, keputusan bisnis ikut kabur. Retailer bisa membayar channel yang tidak memberi nilai. Partner yang benar-benar membantu bisa kehilangan komisi. Tim marketing bisa salah membaca performa. Investor bisa melihat angka growth yang tampak kuat, tetapi tidak sepenuhnya sehat.

Di sinilah praktik seperti cookie stuffing menjadi berbahaya.

Bukan karena semua bug attribution pasti niat buruk. Sistem affiliate memang kompleks. Browser extension punya banyak edge case. Checkout flow bisa berbeda-beda antar retailer. Tracking bisa bertabrakan dengan cookie lama, redirect, coupon tool, dan affiliate network lain.

Tetapi kompleksitas bukan alasan untuk membiarkan attribution menjadi kotak hitam.

Jika produk berada di tengah transaksi dan memiliki kemampuan mengubah referral, maka standar kehati-hatiannya harus lebih tinggi. Produk seperti ini tidak hanya mengubah UI pengguna. Ia juga mengubah pembagian uang di belakang layar.

Banyak startup ingin terlihat seperti memberi value langsung ke user: harga lebih murah, kupon lebih cepat, checkout lebih hemat. Itu bagus.

Namun value untuk user tidak boleh dibayar dengan attribution yang merugikan partner lain secara diam-diam.

Dalam jangka pendek, angka komisi mungkin naik. Dalam jangka panjang, retailer, affiliate network, dan partner akan meminta bukti yang lebih keras: kapan extension aktif, apa tindakan pengguna, kode apa yang diganti, referral mana yang ditimpa, dan kontribusi apa yang benar-benar terjadi.

Growth yang tidak bisa diaudit akan menjadi risiko.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, pelajaran utama dari kasus ini bukan bahwa affiliate marketing buruk. Affiliate marketing tetap bisa menjadi kanal yang sehat jika aturan mainnya jelas.

Masalahnya muncul ketika sistem tracking lebih pintar daripada governance-nya.

Sebelum bisnis membangun automation, extension, referral engine, coupon flow, atau dashboard komisi, ada beberapa pertanyaan dasar yang perlu dijawab:

  • kapan sebuah channel berhak mendapat kredit?
  • apakah user melakukan tindakan yang jelas melalui channel tersebut?
  • apakah sistem boleh mengganti referral yang sudah ada?
  • apakah partner bisa melihat alasan komisi diberikan?
  • apakah log cukup lengkap untuk audit jika ada sengketa?
  • apakah growth team memahami batas teknis dan etik dari tracking?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sering dilewati karena tim terlalu fokus pada conversion rate.

Padahal semakin dekat sebuah fitur dengan uang, semakin penting jejak auditnya.

Untuk bisnis yang memakai affiliate, referral, reseller, creator code, atau partnership commission, jangan hanya membuat dashboard jumlah transaksi. Buat juga kejelasan status attribution.

Misalnya:

  • transaksi datang dari link affiliate
  • transaksi datang dari kode kupon
  • transaksi memiliki konflik referral
  • transaksi mengganti referral sebelumnya
  • transaksi butuh review manual
  • transaksi ditolak karena tidak memenuhi aturan komisi

Status seperti ini membantu bisnis melihat risiko lebih cepat. Bukan setelah partner komplain. Bukan setelah platform melakukan suspend. Bukan setelah kasus masuk berita.

Untuk startup, ini juga penting bagi reputasi. Produk bisa diperbaiki. Bug bisa ditutup. Tetapi kepercayaan partner lebih sulit dipulihkan jika mereka merasa sistem pernah mengambil kredit tanpa dasar yang jelas.

Teknologi yang baik tidak hanya bekerja. Teknologi yang baik juga bisa dijelaskan.

Jika sebuah automation menghasilkan uang, maka automation itu perlu bisa diaudit. Jika sebuah extension mengubah referral, maka alasan perubahan itu perlu tercatat. Jika sebuah dashboard menampilkan komisi, maka sumber datanya harus cukup jelas untuk dipertanggungjawabkan.

Kasus Phia menjadi pengingat bahwa bisnis digital tidak selalu kekurangan fitur. Sering kali, bisnis kekurangan aturan yang jelas tentang siapa berkontribusi, siapa dibayar, dan bagaimana keputusan itu bisa dibuktikan.

Affiliate marketing bukan masalahnya.

Attribution yang kabur adalah masalahnya.

Dan ketika attribution menentukan uang, kejelasan bukan lagi nice to have. Ia bagian dari produk.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Continue Reading