← Back to Blog

Havedev

Yulu Tidak Sekadar Menjual E-Bike, Yulu Menjual Akses Kerja

Yulu Tidak Sekadar Menjual E-Bike, Yulu Menjual Akses Kerja

Quick-commerce di India sedang bergerak sangat cepat. Platform berlomba mengantar groceries, makanan, barang harian, sampai smartphone dalam hitungan menit. Di balik janji pengiriman cepat itu, ada kebutuhan yang tidak selalu terlihat dari sisi pelanggan: kendaraan, akses kerja, biaya awal, perawatan, dan kapasitas operasional.

Di titik itulah Yulu masuk.

Startup mobilitas listrik asal Bengaluru ini baru mengumpulkan pendanaan baru sebesar $93 juta. Rinciannya, $63 juta dalam bentuk equity yang dipimpin GEF Capital Partners dan $30 juta dalam bentuk debt financing. Dengan armada sekitar 50.000 kendaraan, Yulu mengklaim mencatat sekitar 1,6 juta mil bebas emisi setiap minggu dan mendukung lebih dari 750.000 pengiriman per hari.

Dana baru ini akan dipakai untuk memperbesar armada menjadi 200.000 kendaraan dalam dua tahun ke depan dan meluncurkan kendaraan listrik roda dua yang lebih cepat untuk kebutuhan logistik baru.

Namun cerita Yulu tidak hanya menarik karena angka pendanaannya besar. Yang lebih menarik adalah perubahan bentuk bisnisnya.

Yulu awalnya berdiri sebagai layanan bike-sharing untuk komuter urban pada 2017. Tetapi setelah pandemi COVID-19 mempercepat permintaan food delivery dan grocery delivery, peluang terbesar Yulu ternyata bukan berada di commuter sharing. Sekarang, sekitar 95% revenue Yulu datang dari penyewaan e-bike mingguan untuk pekerja gig.

Dengan kata lain, Yulu tidak lagi terutama menjual mobilitas kota untuk pengguna umum. Yulu menjual akses kerja untuk orang yang ingin masuk ke ekonomi delivery tanpa harus membeli kendaraan sendiri.

The Core Update

Yulu menyediakan kendaraan listrik roda dua dengan model langganan mingguan. Ini membuat driver delivery bisa mulai bekerja tanpa investasi awal untuk membeli motor atau e-bike pribadi.

Model ini penting karena quick-commerce punya masalah dasar yang sering tidak terlihat di permukaan. Platform bisa punya aplikasi bagus, demand tinggi, dan promise pengiriman cepat. Tetapi kalau supply kendaraan dan pekerja tidak cukup fleksibel, operasional tetap sulit tumbuh.

Yulu mencoba menjadi lapisan infrastruktur di bawah aktivitas itu.

CEO Yulu, Amit Gupta, bahkan membandingkan peran Yulu dengan “AWS of mobility”. Analogi ini menarik. AWS membantu bisnis digital memakai infrastruktur cloud tanpa membangun data center sendiri. Yulu ingin membantu pekerja delivery memakai infrastruktur kendaraan tanpa membeli dan merawat kendaraan sendiri.

Saat ini Yulu beroperasi di 12 kota India. Operasi langsung ada di Bengaluru, Mumbai, Delhi-NCR, dan Hyderabad. Delapan pasar lain dijalankan bersama franchisee. Target berikutnya adalah sekitar 20 kota dalam satu tahun, termasuk Chennai dan Pune.

Yulu juga menyiapkan model baru bernama Yulu Express, scooter listrik full-sized dengan kecepatan lebih tinggi. Kendaraan ini ditujukan untuk e-commerce jarak lebih panjang, bike taxi, dan express parcel. Sekitar sepertiga dari target armada 200.000 kendaraan akan memakai model baru ini.

Ini menunjukkan bahwa Yulu tidak hanya memperbesar jumlah kendaraan. Yulu sedang memperluas jenis pekerjaan yang bisa dilayani oleh infrastrukturnya.

The Reality Check

Pendanaan besar sering membuat cerita startup terdengar terlalu sederhana: market naik, startup dapat uang, armada bertambah, bisnis tumbuh.

Padahal realitanya tidak sebersih itu.

Quick-commerce memang menciptakan demand besar untuk kendaraan delivery. Tetapi demand yang besar juga membawa tekanan operasional yang besar. Kendaraan harus tersedia di lokasi yang tepat. Baterai harus siap. Perawatan harus disiplin. Utilisasi harus cukup tinggi. Harga sewa harus masuk akal untuk pekerja gig. Ekspansi kota harus tetap terkendali.

Kalau salah satu bagian itu longgar, armada besar bisa berubah menjadi beban besar.

Model Yulu juga menarik karena pelanggan langsungnya bukan platform seperti Amazon, Flipkart, atau layanan quick-commerce lain. Pelanggan Yulu adalah pekerja gig yang menyewa kendaraan. Platform memang mendapat manfaat karena lebih banyak driver bisa bekerja, tetapi hubungan komersial utama tetap berada di level pekerja.

Ini membuat posisi Yulu berbeda. Di satu sisi, Yulu bisa melayani banyak platform tanpa terlalu tergantung pada satu kontrak besar. Di sisi lain, Yulu harus menjaga agar unit economics tetap sehat bagi pekerja, bukan hanya bagi perusahaan logistik.

Ada juga sinyal penting dari struktur pendanaannya. Putaran ini mencakup $30 juta debt financing, dan Yulu menyebut ekspansi armada ke depan akan lebih banyak dibiayai melalui debt dan lease financing. Ini masuk akal untuk bisnis berbasis aset, tetapi juga menuntut disiplin tinggi.

Startup software bisa sering tumbuh dengan margin yang lebih ringan terhadap aset fisik. Bisnis seperti Yulu berbeda. Setiap pertumbuhan armada berarti keputusan pembelian, pembiayaan, depresiasi, perawatan, downtime, dan utilisasi.

Karena itu, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah quick-commerce akan terus tumbuh. Pertanyaannya juga: apakah Yulu bisa menjaga kendaraan tetap produktif, pekerja tetap mau menyewa, dan biaya operasional tetap terkendali saat skala naik empat kali lipat?

Yulu mengatakan sudah mencapai EBITDA positif pada financial year terakhir dan bergerak menuju profit sebelum interest dan tax tahun depan. Itu sinyal baik. Tetapi ekspansi dari 50.000 ke 200.000 kendaraan tetap bukan sekadar penambahan angka. Itu ujian sistem operasional.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, cerita Yulu memberi pelajaran penting untuk bisnis digital dan operasional: sering kali peluang terbesar bukan berada di aplikasi yang terlihat pelanggan, tetapi di infrastruktur kerja yang membuat layanan bisa berjalan.

Quick-commerce terlihat seperti perang aplikasi, promo, inventory, dan kecepatan checkout. Tetapi di lapangan, pengiriman cepat tetap membutuhkan orang, kendaraan, rute, baterai, jadwal, dan biaya operasional yang masuk akal.

Yulu melihat bottleneck itu dan membuat model yang lebih dekat dengan kebutuhan pekerja.

Ini relevan juga untuk banyak bisnis di luar mobility. Banyak perusahaan ingin membangun aplikasi baru, dashboard baru, atau automation baru. Tetapi masalah sebenarnya sering berada di akses operasional yang belum rapi.

Contohnya:

  • sales tidak kekurangan CRM, tetapi kekurangan alur follow-up yang jelas
  • support tidak kekurangan channel, tetapi kekurangan pemilik tiket yang jelas
  • warehouse tidak kekurangan spreadsheet, tetapi kekurangan status stok yang bisa dipercaya
  • finance tidak kekurangan laporan, tetapi kekurangan data invoice yang konsisten
  • tim lapangan tidak kekurangan chat group, tetapi kekurangan sistem kerja yang bisa dilacak

Yulu menjadi menarik karena tidak memulai dari janji teknologi yang terlalu abstrak. Mereka menghubungkan tiga hal yang sangat konkret: kebutuhan delivery yang naik, pekerja yang butuh kendaraan, dan platform yang butuh kapasitas operasional.

Bagi bisnis, ini pertanyaan yang lebih sehat daripada sekadar “kita perlu pakai tool apa?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  • pekerjaan apa yang ingin dibuat lebih mudah masuk?
  • biaya awal apa yang menghambat orang untuk mulai bekerja?
  • aset apa yang sering menjadi bottleneck?
  • status operasional apa yang perlu terlihat setiap hari?
  • bagian mana yang harus fleksibel agar volume bisa naik?

Kalau jawaban pertanyaan ini belum jelas, teknologi baru sering hanya menjadi lapisan tambahan di atas proses yang masih kabur.

Yulu menunjukkan bahwa automation, aplikasi, dan platform hanya bernilai kalau terhubung dengan realitas operasional. Dalam kasus mereka, realitas itu adalah kendaraan, pekerja gig, baterai, kota, dan delivery harian.

Untuk bisnis lain, realitasnya mungkin lead, order, tiket support, stok, invoice, atau jadwal teknisi.

Prinsipnya sama: sebelum mengejar sistem yang terlihat canggih, cari dulu bottleneck yang membuat pekerjaan sulit bergerak.

Jika bottleneck itu sudah jelas, teknologi bisa menjadi pengungkit. Jika belum jelas, teknologi hanya membuat kebingungan terlihat lebih modern.

Yulu mungkin sedang membangun “AWS of mobility” untuk pekerja delivery. Tetapi pelajaran yang lebih luas adalah ini: bisnis yang menang bukan selalu yang punya tool paling ramai, melainkan yang paling paham infrastruktur kecil apa yang membuat pekerjaan besar bisa berjalan berulang.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau alur digital, operasional, dan automation bisnis Anda sebelum menambah sistem baru yang belum tentu menyelesaikan bottleneck utama.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Continue Reading