← Back to Blog

Havedev

Melius dan Pelajaran Lama dari Startup AI: Kadang Produk Pertama Memang Harus Dibuang

Melius dan Pelajaran Lama dari Startup AI: Kadang Produk Pertama Memang Harus Dibuang

Melius, platform AI untuk membuat campaign iklan, gambar, dan video, mengumumkan pendanaan total 25 juta dolar. Rinciannya, 20 juta dolar Series A dipimpin CRV dan 5 juta dolar seed dipimpin General Catalyst.

Angka itu terlihat seperti cerita startup AI yang sedang berjalan mulus. Produk keluar dari stealth pada Juli, lalu diklaim melewati 1 juta dolar annualized revenue hanya dalam dua bulan.

Tetapi bagian yang lebih menarik bukan pendanaannya.

Bagian yang lebih penting adalah bahwa Melius tidak langsung menemukan bentuk produk yang tepat.

Awalnya, para pendirinya ingin membangun tool performance marketing berbasis AI. Mereka datang dari latar belakang engineering di Ramp, perusahaan software finance dan corporate spending. Secara teknis, mereka punya modal kuat untuk membangun produk yang kompleks.

Namun setelah lebih dari enam bulan membangun, mereka menyimpulkan ide awal itu tidak cukup kuat. Produk pertama tidak punya arah pertumbuhan yang mereka harapkan.

Lalu mereka mengambil keputusan yang tidak nyaman: seluruh codebase dibuang.

Melius kemudian beralih dari membantu marketer mengelola dan mengoptimalkan ad spend menjadi platform untuk membuat aset kreatif dan campaign itu sendiri. Mereka menyebutnya sebagai agents lab untuk creative work.

The Core Update

Berita Melius mudah dibaca sebagai kabar pendanaan AI biasa. Startup baru, founder teknis kuat, pasar besar, investor besar, dan klaim revenue cepat.

Namun cerita intinya bukan sekadar AI bisa membuat iklan.

Cerita intinya adalah perubahan fokus.

Melius memulai dari area yang sudah cukup dikenal di marketing: performance, optimasi budget, dan pengelolaan iklan. Ini area yang penting, tetapi juga padat. Banyak bisnis sudah memakai dashboard, ad manager, attribution tool, dan workflow internal untuk membaca performa.

Kemudian mereka melihat peluang yang lebih besar di titik sebelumnya: proses membuat campaign dan aset kreatif.

Ini masuk akal. Banyak tim marketing tidak hanya kesulitan membaca performa iklan. Mereka juga kesulitan menghasilkan cukup banyak variasi ide, visual, video, copy, dan format campaign untuk diuji.

Di dunia iklan digital, masalahnya bukan selalu kurang data. Sering kali masalahnya adalah kurang materi kreatif yang cukup cepat, cukup relevan, dan cukup banyak untuk mengikuti ritme eksperimen.

Melius ingin masuk ke titik itu.

Bukan hanya membantu melihat iklan mana yang berhasil, tetapi membantu membuat bahan iklan yang bisa diuji sejak awal.

The Reality Check

Tetapi ada sisi yang perlu dibaca lebih hati-hati.

Pasar AI creative tools sedang sangat ramai. Melius bukan pemain tunggal. Ada Higgsfield yang disebut sudah mencapai annualized revenue lebih dari 700 juta dolar dan valuasi 5,4 miliar dolar. Ada juga Krea, Flora AI, dan banyak startup lain yang bergerak di ruang pembuatan visual, video, dan aset kreatif.

Dalam kondisi seperti ini, teknologi generatif saja tidak cukup menjadi pembeda.

Kalau semua tool bisa membuat gambar, video, dan variasi campaign dari prompt, pertanyaan berikutnya menjadi lebih operasional:

  • siapa yang menentukan brief?
  • bagaimana brand guideline dijaga?
  • bagaimana approval dilakukan?
  • bagaimana hasil kreatif dihubungkan ke campaign yang berjalan?
  • bagaimana tim tahu asset mana yang layak dipakai?
  • bagaimana feedback dari performa iklan kembali ke proses produksi kreatif?

Banyak bisnis tertarik pada AI karena ingin produksi lebih cepat. Itu wajar. Tetapi produksi cepat tanpa struktur bisa membuat masalah baru.

Asset bertambah banyak, tetapi kualitas tidak konsisten. Campaign lebih cepat dibuat, tetapi pesan brand mulai melebar. Tim punya banyak opsi visual, tetapi tetap bingung memilih mana yang sesuai dengan tujuan bisnis.

Di titik ini, AI creative platform tidak hanya bersaing soal kemampuan generate. Mereka juga bersaing soal kemampuan membantu tim bekerja lebih rapi.

Melius bisa saja menjadi penting jika mampu menjembatani ide, produksi, approval, dan eksekusi campaign. Tetapi kalau hanya menjadi mesin pembuat aset, bisnis masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan manual di sekitarnya.

Inilah bagian yang sering luput dari hype AI.

AI bisa mempercepat output. Namun output yang lebih banyak tidak otomatis membuat operasi marketing lebih jelas.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, pelajaran terbesar dari Melius bukan bahwa semua bisnis harus segera memakai AI untuk membuat iklan.

Pelajaran yang lebih sehat adalah: produk yang bagus sering lahir setelah masalahnya dibaca ulang.

Melius membuang codebase awal karena mereka melihat bahwa titik masalah yang lebih besar bukan hanya optimasi spend, tetapi produksi kreatif. Itu keputusan yang mahal secara emosional dan teknis, tetapi kadang perlu.

Banyak bisnis mengalami versi kecil dari masalah yang sama.

Mereka membangun dashboard, form, automation, atau aplikasi internal berdasarkan asumsi awal. Setelah dipakai beberapa bulan, ternyata masalah utama bukan di tempat itu. Tim tetap lambat bukan karena kurang fitur, tetapi karena brief tidak jelas. Lead tetap bocor bukan karena tidak ada CRM, tetapi karena status follow-up tidak konsisten. Campaign tetap sulit dieksekusi bukan karena kurang tool, tetapi karena alur approval terlalu kabur.

Di sinilah pendekatan yang lebih tenang dibutuhkan.

Sebelum menambah tool AI, bisnis perlu bertanya:

  • bagian mana yang benar-benar lambat?
  • apakah masalahnya ide, produksi, approval, distribusi, atau evaluasi?
  • siapa pemilik keputusan kreatif?
  • apa standar output yang dianggap siap pakai?
  • bagaimana hasil campaign dipakai untuk memperbaiki brief berikutnya?

Kalau pertanyaan ini belum jelas, AI bisa membuat pekerjaan terlihat lebih modern, tetapi belum tentu lebih terkendali.

Untuk bisnis yang mulai memakai AI di marketing, langkah awal tidak harus besar. Mulai dari satu alur yang paling dekat dengan revenue: misalnya pembuatan materi iklan untuk lead generation, konten produk, atau follow-up campaign.

Petakan dulu alurnya dari brief sampai tayang.

Tentukan siapa yang memberi konteks, siapa yang meninjau hasil, siapa yang menyetujui, dan bagaimana performa dicatat. Setelah itu, baru pilih apakah perlu AI image generator, video generator, campaign tool, automation, atau cukup template kerja yang lebih rapi.

Melius menunjukkan bahwa bahkan tim teknis kuat pun bisa salah membaca produk pertama. Yang membedakan bukan tidak pernah salah, tetapi cepat mengakui bahwa arah awal tidak cukup kuat.

Bagi bisnis, ini pesan yang relevan.

Jangan terlalu cepat jatuh cinta pada tool, workflow, atau sistem yang sudah dibuat. Kalau tidak membantu keputusan dan pekerjaan utama, mungkin masalahnya bukan perlu ditambah fitur. Mungkin perlu dibaca ulang dari awal.

AI akan membuat produksi konten dan campaign semakin cepat. Tetapi bisnis tetap perlu struktur: brief yang jelas, status kerja yang terbaca, approval yang sehat, dan ukuran keberhasilan yang disepakati.

Tanpa itu, AI hanya mempercepat keluarnya asset yang belum tentu membantu bisnis bergerak.

Dengan struktur yang benar, AI bisa menjadi leverage yang nyata.

Bukan karena semua hal otomatis menjadi kreatif, tetapi karena ide yang tepat bisa lebih cepat berubah menjadi materi yang bisa diuji, dipelajari, dan diperbaiki.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, campaign, dan workflow digital bisnis Anda sudah cukup jelas sebelum menambah tool AI baru.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Continue Reading