← Back to Blog

Havedev

Akun AI Bisa Diretas, dan Banyak Tim Belum Mengeceknya

Akun AI Bisa Diretas, dan Banyak Tim Belum Mengeceknya

Akun AI sering diperlakukan seperti alat bantu biasa. Dipakai untuk menulis email, merapikan proposal, membaca dokumen, mencari ide campaign, membuat draft SOP, atau mengecek potongan kode.

Karena terasa seperti ruang kerja pribadi, banyak orang lupa bahwa akun AI tetap akun online. Ia bisa diambil alih. Ia bisa dibuka dari perangkat lain. Ia bisa menyimpan riwayat percakapan yang berisi informasi internal.

Berita terbaru dari TechCrunch mengingatkan hal sederhana tetapi penting: platform AI populer seperti ChatGPT, Claude, dan Perplexity punya cara berbeda untuk mengecek sesi login, mengeluarkan perangkat, dan mengamankan akun.

Ini bukan isu teknis kecil. Untuk bisnis yang mulai memakai AI dalam pekerjaan harian, keamanan akun AI sudah masuk wilayah operasional.

The Core Update

TechCrunch menjelaskan cara mengecek apakah akun di platform AI mungkin sudah diakses orang lain.

Di ChatGPT, pengguna bisa membuka menu akun, masuk ke Settings, lalu Security and Login, dan melihat Active Sessions. Dari sana, pengguna bisa melihat perangkat yang sedang login. Jika ada perangkat yang tidak dikenal, pengguna bisa mengeluarkan perangkat itu atau memilih Log out all.

Jika ingin mengganti password ChatGPT, pengguna perlu keluar lebih dulu, lalu memakai alur Forgot password. ChatGPT akan mengirim kode enam digit ke email, lalu pengguna bisa membuat password baru.

Di Claude, alurnya sedikit berbeda. Claude tidak memakai password. Pengguna login memakai link yang dikirim ke email. Untuk mengecek sesi aktif, pengguna bisa masuk ke Settings, lalu Account, dan melihat Active sessions. Jika ada sesi yang mencurigakan, pengguna bisa memilih Log out atau Terminate. Claude juga menyediakan opsi untuk keluar dari semua perangkat.

Di Perplexity, situasinya lebih terbatas. Perplexity tidak menampilkan lokasi atau daftar perangkat yang sedang login. Jika pengguna curiga akun sudah diakses orang lain, langkah paling aman adalah masuk ke All settings, lalu memilih Sign out of all sessions. Setelah itu pengguna bisa login ulang memakai email dan kode enam digit.

Rekomendasi dasarnya tetap sama: gunakan password yang unik, simpan di password manager, dan aktifkan multi-factor authentication jika tersedia. ChatGPT dan Perplexity mendukung MFA. Claude belum memakai model password, sehingga keamanan email menjadi jauh lebih penting.

The Reality Check

Banyak bisnis sudah mulai memakai AI, tetapi belum memasukkan akun AI ke daftar aset digital yang perlu dijaga.

Akun email perusahaan biasanya sudah dianggap penting. Akun bank, hosting, analytics, CRM, dan media sosial juga lebih sering diperhatikan. Tetapi akun AI sering lolos dari audit karena terlihat seperti alat eksperimen.

Padahal isi percakapannya bisa cukup sensitif.

Tim sales mungkin memakai AI untuk merapikan proposal dan ringkasan kebutuhan calon client. Tim operasional mungkin memasukkan data order atau keluhan pelanggan untuk dibuatkan analisis. Tim founder mungkin memakai AI untuk membaca strategi, pricing, atau rencana hiring. Tim teknis mungkin menempelkan potongan kode, error log, atau konteks sistem internal.

Jika akun seperti ini diambil alih, risikonya bukan hanya orang asing bisa memakai kuota langganan. Risiko yang lebih besar adalah orang asing bisa membaca pola kerja, dokumen, konteks bisnis, dan percakapan lama.

Masalahnya, banyak tim belum punya kebiasaan sederhana untuk mengecek sesi aktif.

Mereka baru panik setelah ada tanda aneh: percakapan yang tidak dibuat sendiri, email login dari lokasi asing, perangkat yang tidak dikenal, atau akses yang terasa berubah. Itu pun sering tidak jelas siapa yang harus mengecek dan apa langkah berikutnya.

Di sinilah keamanan akun AI mirip dengan masalah operasional lain. Tool sudah dipakai, tetapi status keamanannya tidak terlihat.

Apakah akun ini memakai MFA?

Apakah password-nya unik?

Apakah email pemulihannya aman?

Apakah ada sesi login yang tidak dikenal?

Apakah akun dipakai personal atau bersama?

Apakah ada data client yang pernah dimasukkan?

Tanpa jawaban dasar ini, bisnis hanya berharap akun tetap aman.

Harapan bukan kontrol keamanan.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, respons yang sehat bukan langsung membuat kebijakan panjang tentang AI. Mulai dari kontrol yang paling dekat dengan risiko.

Pertama, perlakukan akun AI sebagai aset kerja. Kalau akun dipakai untuk pekerjaan bisnis, ia tidak lagi sekadar akun pribadi. Ia perlu masuk daftar akun yang dicek berkala, sama seperti email, domain, hosting, CRM, dan dashboard internal.

Kedua, cek sesi aktif. Untuk ChatGPT dan Claude, lihat daftar perangkat atau active sessions. Keluarkan perangkat yang tidak dikenal. Jika ragu, keluar dari semua perangkat dan login ulang. Untuk Perplexity, karena daftar perangkat tidak ditampilkan, gunakan opsi keluar dari semua sesi jika ada kecurigaan.

Ketiga, rapikan akses email. Ini penting terutama untuk Claude dan Perplexity yang mengandalkan kode atau link login via email. Jika email utama tidak aman, akun AI ikut tidak aman. MFA di email menjadi lebih penting daripada sekadar mengganti password akun AI.

Keempat, gunakan password unik untuk platform yang memakai password. Jangan pakai password yang sama dengan email, marketplace, media sosial, atau tool kantor lain. Password manager bukan aksesori teknis. Untuk banyak tim kecil, itu justru cara paling praktis agar keamanan tidak bergantung pada ingatan.

Kelima, batasi data yang dimasukkan. Tidak semua informasi perlu ditempel ke AI. Data pelanggan, kontrak, credential, token API, dokumen internal, dan informasi finansial perlu aturan yang lebih jelas. Bukan berarti AI tidak boleh dipakai, tetapi konteks yang masuk harus disadari.

Keenam, buat checklist ringan untuk tim. Tidak perlu mulai dari dokumen 30 halaman. Cukup daftar singkat:

  • akun AI apa saja yang dipakai tim
  • siapa pemilik akun
  • apakah MFA aktif jika tersedia
  • apakah password unik
  • kapan terakhir sesi aktif dicek
  • data apa yang tidak boleh dimasukkan
  • apa yang harus dilakukan jika ada login mencurigakan

Checklist seperti ini sering lebih berguna daripada policy yang panjang tetapi tidak pernah dibaca.

AI sedang menjadi bagian dari pekerjaan harian. Karena itu, keamanan AI tidak bisa hanya dibahas sebagai isu teknologi. Ia juga isu kebiasaan kerja.

Akun yang dipakai setiap hari perlu status yang jelas: aman, perlu dicek, mencurigakan, atau harus diputus dari semua sesi.

Kalau status itu tidak terlihat, tim hanya tahu akun bermasalah setelah terlambat.

Bisnis tidak perlu menunggu insiden untuk mulai rapi. Cek akun AI yang dipakai hari ini. Lihat sesi aktif. Aktifkan MFA jika tersedia. Pastikan email utama aman. Tentukan data apa yang tidak boleh masuk ke percakapan AI.

Langkahnya sederhana, tetapi dampaknya besar: akun AI berubah dari alat yang dipakai sembarangan menjadi bagian dari sistem kerja yang bisa diaudit.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau keamanan akun, alur kerja AI, dan titik risiko digital yang mulai masuk ke operasional bisnis Anda.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Continue Reading