← Kembali ke Blog

Havedev

Pertumbuhan Bisnis Tidak Seharusnya Bergantung pada Keberuntungan

Pertumbuhan Bisnis Tidak Seharusnya Bergantung pada Keberuntungan

The Core Update

Bending Spoons, perusahaan teknologi asal Italia yang dikenal lewat akuisisi brand seperti Meetup, Eventbrite, Vimeo, WeTransfer, dan Evernote, resmi melantai di Nasdaq dengan valuasi awal lebih dari 18 miliar dolar AS.

Sahamnya bahkan naik sekitar 40% pada hari pertama perdagangan.

Di permukaan, ini terlihat seperti cerita startup yang berhasil menangkap momentum: akuisisi brand besar, narasi AI, pasar publik yang kembali tertarik pada perusahaan teknologi, dan timing yang tepat.

Tetapi ada bagian yang lebih menarik dari cerita ini.

Matteo Danieli, co-founder dan chief product officer Bending Spoons, menyampaikan bahwa salah satu pelajaran terbesar dari kegagalan startup mereka sebelumnya adalah ini: keberuntungan punya peran besar dalam menemukan product-market fit.

Karena itu, Bending Spoons membangun strategi yang berusaha mengurangi peran keberuntungan dalam pertumbuhan.

Mereka tidak hanya membuat produk baru dari nol. Mereka membeli produk yang sudah punya pengguna, brand, dan distribusi. Lalu mereka mencoba memperbaikinya lewat teknologi, eksperimen, pricing, data, AI, dan operasional yang lebih disiplin.

Pendekatan ini tidak selalu disukai semua orang. Beberapa akuisisi mereka diikuti layoff, kenaikan harga, dan perubahan produk yang memicu komplain dari pengguna lama.

Namun dari sisi bisnis, hasilnya sulit diabaikan. Dalam dokumen SEC, Bending Spoons menyebut revenue per karyawan naik dari 1,12 juta dolar AS pada 2023 menjadi 2,57 juta dolar AS pada 2025.

Narasinya jelas: mereka ingin menjadi operator yang mengambil brand yang dicintai pengguna, lalu membuatnya lebih baik.

Pertanyaannya, apa yang bisa dipelajari bisnis lain dari sini?

Bukan bahwa semua bisnis harus membeli perusahaan lain. Bukan juga bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan AI.

Pelajaran yang lebih dekat adalah ini: pertumbuhan yang sehat tidak boleh terlalu bergantung pada keberuntungan.

The Reality Check

Banyak bisnis diam-diam masih berjalan dengan asumsi bahwa growth akan datang kalau momennya tepat.

Kalau campaign viral. Kalau sales menemukan leads yang bagus. Kalau ada referral besar. Kalau algoritma sedang berpihak. Kalau kompetitor sedang lengah. Kalau produk tiba-tiba cocok dengan kebutuhan pasar.

Kadang hal itu memang terjadi.

Tetapi masalahnya, keberuntungan sulit diulang.

Bisnis yang terlalu bergantung pada keberuntungan biasanya sulit menjawab pertanyaan dasar:

  • channel mana yang benar-benar menghasilkan lead berkualitas?
  • bagian mana dari proses sales yang paling sering bocor?
  • fitur mana yang dipakai pelanggan dan mana yang hanya terlihat bagus di roadmap?
  • harga mana yang sehat untuk margin tanpa merusak retention?
  • pekerjaan mana yang bisa dibantu AI dan mana yang hanya akan dibuat lebih ribut?
  • tim mana yang menghasilkan output tinggi karena sistemnya baik, bukan karena orangnya terus lembur?

Tanpa jawaban ini, bisnis hanya menebak dengan lebih percaya diri.

Di sinilah pendekatan Bending Spoons menarik, meskipun tidak perlu ditiru mentah-mentah.

Mereka mengakui bahwa fase nol ke satu sering penuh ketidakpastian. Mencari product-market fit memang tidak selalu adil. Founder yang pintar bisa gagal. Produk yang biasa saja bisa mendapat momentum. Timing bisa mengubah hasil.

Tetapi setelah ada pengguna, data, distribusi, dan kebutuhan yang terbukti, ruang untuk mengurangi keberuntungan menjadi lebih besar.

Di tahap itu, pertumbuhan lebih banyak ditentukan oleh disiplin operasional:

  • eksperimen yang rapi
  • data yang bisa dipercaya
  • pricing yang diuji, bukan ditebak
  • proses hiring yang kuat
  • keputusan produk yang membaca perilaku pengguna
  • automation yang mempercepat pekerjaan yang sudah jelas
  • AI yang dipakai untuk output nyata, bukan sekadar label investor deck

Ini bagian yang sering dilewatkan bisnis.

Banyak perusahaan ingin langsung terlihat modern: memakai AI, membuat dashboard, memasang CRM, membangun aplikasi internal, atau menjalankan automation.

Tetapi kalau proses dasarnya belum jelas, teknologi hanya membuat tebakan berjalan lebih cepat.

AI tidak otomatis membuat bisnis lebih efisien kalau data input-nya berantakan. Dashboard tidak otomatis membantu owner kalau status pekerjaan tidak disepakati. Automation tidak otomatis meningkatkan follow-up kalau tim belum tahu kapan lead dianggap dingin, panas, atau butuh respons cepat.

Pertumbuhan tidak cukup hanya dengan menambah tool.

Pertumbuhan perlu mengurangi area yang masih bergantung pada ingatan, feeling, dan keberuntungan.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, bagian paling penting dari cerita Bending Spoons bukan IPO-nya, bukan angka valuasinya, dan bukan daftar akuisisinya.

Bagian paling penting adalah cara berpikirnya: mana bagian bisnis yang masih bergantung pada keberuntungan, dan mana yang bisa dibuat lebih sistematis?

Untuk bisnis yang lebih kecil, pertanyaannya tidak harus rumit.

Mulai dari alur yang paling dekat dengan uang.

Misalnya lead dari website, WhatsApp, iklan, marketplace, referral, atau form kontak. Lihat apakah bisnis sudah bisa menjawab:

  • dari mana lead terbaik datang?
  • apa pesan pertama yang diterima tim?
  • siapa yang bertanggung jawab membalas?
  • berapa lama respons pertama terjadi?
  • kapan lead perlu follow-up?
  • kapan lead dianggap tidak cocok?
  • alasan paling umum deal gagal apa?
  • bagian mana yang masih dicatat manual atau hilang di chat?

Kalau jawaban ini belum jelas, jangan langsung mulai dari AI atau automation.

Mulai dari membuat alurnya bisa dibaca.

Website bisa membantu dengan form yang lebih kontekstual. Tombol WhatsApp bisa membawa pesan awal yang menjelaskan halaman asal dan kebutuhan calon pelanggan. CRM ringan bisa membantu kalau status lead sudah disepakati. Dashboard bisa berguna kalau data yang masuk memang konsisten. Automation bisa ditambahkan setelah aturan follow-up jelas.

Urutannya penting.

Bukan tool dulu, lalu berharap proses menjadi rapi.

Proses dibaca dulu, lalu tool dipilih untuk mengurangi pekerjaan manual dan keputusan yang berulang.

AI juga sebaiknya diperlakukan dengan cara yang sama.

AI paling berguna ketika dipakai pada pekerjaan yang sudah punya pola: merangkum inquiry, mengelompokkan tipe lead, membantu draft respons, mencari anomali data, membuat laporan mingguan, atau mempercepat pekerjaan internal yang formatnya berulang.

Tetapi AI tidak akan menyelamatkan proses yang belum punya definisi.

Jika tim belum sepakat apa itu lead berkualitas, AI sulit memberi prioritas yang benar. Jika data pelanggan tersebar di banyak tempat, AI hanya akan merangkum kekacauan. Jika status order tidak konsisten, laporan otomatis akan terlihat canggih tetapi tetap menyesatkan.

Pelajaran praktisnya sederhana: kurangi keberuntungan satu area pada satu waktu.

Jangan mulai dari pertanyaan besar seperti, “Bagaimana cara bisnis kami memakai AI?”

Mulai dari pertanyaan yang lebih tajam:

  • keputusan apa yang hari ini masih terlalu banyak memakai feeling?
  • pekerjaan apa yang sering terlambat karena tidak terlihat?
  • data apa yang sering ditanyakan berulang di meeting?
  • proses mana yang hanya berjalan baik kalau orang tertentu yang mengurus?
  • bagian mana dari sales, support, atau operasional yang paling sering bocor?

Jawaban dari pertanyaan ini biasanya lebih berguna daripada daftar tool baru.

Bending Spoons bermain di skala besar: membeli perusahaan, memperbaiki produk, menaikkan efisiensi, memakai AI, dan mengakses modal publik untuk akuisisi berikutnya.

Tetapi prinsip dasarnya tetap relevan untuk bisnis yang jauh lebih kecil.

Pertumbuhan yang sehat bukan berarti menghilangkan semua risiko. Itu tidak realistis.

Pertumbuhan yang sehat berarti mengurangi bagian yang terlalu bergantung pada kebetulan.

Kalau lead hanya masuk saat campaign sedang bagus, bisnis masih bergantung pada momentum. Kalau follow-up hanya berjalan ketika owner mengingatkan, bisnis masih bergantung pada orang tertentu. Kalau laporan hanya jelas setelah meeting panjang, bisnis masih bergantung pada penjelasan manual. Kalau keputusan pricing hanya berdasarkan rasa takut kehilangan pelanggan, bisnis masih bergantung pada asumsi.

Teknologi yang baik membantu mengurangi hal-hal itu.

Bukan dengan membuat bisnis terlihat lebih digital, tetapi dengan membuat pekerjaan lebih terlihat, keputusan lebih berbasis data, dan proses lebih mudah diulang.

Itulah bedanya digitalisasi yang sekadar menambah tool dengan digitalisasi yang benar-benar memperbaiki operasi.

Sebelum mengejar automation besar, AI agent, dashboard kompleks, atau sistem internal baru, cek dulu satu hal sederhana: bagian mana dari bisnis Anda yang masih terlalu bergantung pada keberuntungan?

Mulai dari sana.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau alur website, lead, automation, dan proses digital yang masih terlalu bergantung pada manual follow-up, feeling, atau keberuntungan.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca