← Kembali ke Blog

Havedev

Ketika Founder Masih Memegang Kontrol, Board Tidak Otomatis Menjadi Rem

Ketika Founder Masih Memegang Kontrol, Board Tidak Otomatis Menjadi Rem

Automattic kembali menjadi perhatian setelah CEO Matt Mullenweg membentuk board baru hanya beberapa minggu setelah board sebelumnya mencoba menempatkannya dalam masa leave.

Menurut laporan TechCrunch, upaya itu gagal. Mullenweg kembali memegang kendali dalam waktu sekitar 33 jam, lalu mengganti atau menerima pengunduran diri direktur yang terlibat. Board baru kemudian diumumkan kepada staf, dengan anggota yang cukup beragam, mulai dari penulis fiksi ilmiah Hugh Howey, penulis Amy Chan, sampai dua co-founder dari aplikasi sosial IRL yang sudah tidak beroperasi.

Di permukaan, ini terlihat seperti drama internal perusahaan teknologi besar. Ada founder kuat, board lama, board baru, voting shares, pengacara baru, dan konteks gugatan hukum yang masih berjalan.

Tetapi bagi bisnis digital, pelajaran yang lebih penting bukan pada siapa menang dan siapa kalah.

Pelajarannya adalah ini: struktur governance tidak banyak berarti kalau hak kontrol, mandat keputusan, dan batas kewenangan tidak benar-benar jelas sejak awal.

The Core Update

Automattic adalah perusahaan di balik WordPress.com, Tumblr, WooCommerce, dan beberapa produk digital lain yang dipakai banyak bisnis di seluruh dunia. Karena itu, perubahan internal di Automattic bukan hanya kabar perusahaan biasa. Ia ikut diperhatikan oleh komunitas teknologi, open source, hosting, dan bisnis digital yang bergantung pada ekosistem WordPress.

Kabar terbaru menunjukkan bahwa Mullenweg telah membentuk board baru setelah board sebelumnya mencoba menempatkannya dalam leave. Upaya tersebut gagal karena Mullenweg masih memiliki kontrol suara yang sangat besar. Ia pernah menyebut bahwa dirinya mengontrol 84% voting shares.

Artinya, meskipun ada board, distribusi kekuasaan formal tetap membuat founder punya posisi yang sangat kuat.

Board baru yang dilaporkan mencakup beberapa nama dari latar berbeda. Ada Hugh Howey, penulis seri Silo. Ada Amy Chan. Ada Henry Khachatryan dan Krutal Desai, dua co-founder IRL. Di luar board, beberapa adviser juga disebut bergabung, termasuk Jaime Waydo, Matt Van Horn, dan Hiten Shah.

Mullenweg juga menyampaikan kepada staf bahwa untuk kepentingan hukum Delaware, ia adalah CEO, President, Treasurer, dan Secretary. Ia menyebut periode ini sebagai masa perubahan besar, bahkan mengatakan bahwa enam bulan ke depan akan menentukan dua puluh tahun berikutnya bagi Automattic.

Kalimat seperti itu menunjukkan satu hal: ini bukan sekadar pergantian board. Ini adalah fase penataan ulang kekuasaan, arah, dan kepercayaan internal.

The Reality Check

Banyak orang sering menganggap board sebagai mekanisme pengimbang otomatis. Seolah begitu perusahaan punya board, keputusan besar akan lebih sehat, risiko founder bisa dikontrol, dan konflik internal punya jalur penyelesaian yang rapi.

Kenyataannya tidak selalu begitu.

Board hanya bekerja kalau mandatnya jelas, hak suaranya relevan, akses informasinya sehat, dan hubungan dengan founder tidak bergantung pada asumsi. Jika founder masih memegang mayoritas kontrol suara, board bisa memberi masukan, menekan, atau mencoba mengambil tindakan. Tetapi kemampuan akhirnya tetap dibatasi oleh struktur kontrol.

Ini bukan berarti founder control selalu buruk. Banyak perusahaan besar bertahan karena founder punya visi kuat dan tidak mudah digeser oleh tekanan jangka pendek.

Namun founder control juga punya risiko. Ketika terlalu banyak keputusan bergantung pada satu orang, perusahaan bisa kesulitan membedakan antara arah strategis, konflik personal, dan mekanisme governance yang sehat.

Masalahnya bukan hanya siapa yang benar. Masalahnya adalah apakah sistemnya memungkinkan konflik besar diselesaikan tanpa membuat organisasi ikut bingung.

Dalam kasus seperti Automattic, karyawan, partner, pelanggan enterprise, komunitas developer, dan pihak yang bergantung pada ekosistem WordPress bisa melihat sinyal yang berbeda-beda.

Sebagian mungkin melihat founder yang berhasil mempertahankan perusahaan dari board yang tidak sejalan. Sebagian lain mungkin melihat governance yang terlalu terpusat. Sebagian lagi mungkin hanya bertanya hal praktis: apakah produk, roadmap, support, dan komitmen jangka panjang tetap stabil?

Untuk bisnis, pertanyaan terakhir sering lebih penting daripada drama internalnya.

Customer jarang peduli struktur board secara detail. Tetapi mereka peduli kalau konflik internal mulai mengganggu produk, SLA, security, roadmap, pricing, support, atau integrasi yang mereka pakai setiap hari.

Di sinilah governance bertemu operasional.

Kalau keputusan strategis tidak jelas, tim produk bisa ragu. Kalau legal direction berubah mendadak, partner bisa menunggu. Kalau board berubah cepat, investor dan pelanggan besar bisa membaca risiko. Kalau komunikasi internal terasa reaktif, karyawan bisa kehilangan konteks.

Perusahaan teknologi tidak hanya menjual software. Mereka menjual kepercayaan bahwa sistem yang dipakai hari ini tetap bisa diandalkan besok.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, kasus ini mengingatkan bahwa bisnis digital tidak cukup hanya punya struktur. Bisnis perlu punya struktur yang bisa dipakai saat situasi sulit.

Banyak perusahaan kecil dan menengah memang belum bicara soal board. Tetapi masalah dasarnya sering sama: siapa yang boleh mengambil keputusan, siapa yang perlu diajak bicara, siapa pemilik risiko, dan kapan keputusan harus naik level.

Ketika bisnis masih kecil, semua hal sering selesai lewat founder. Harga disetujui founder. Proposal dicek founder. Komplain besar masuk ke founder. Pilihan vendor ditentukan founder. Prioritas produk berubah karena founder melihat peluang baru.

Itu normal pada tahap awal.

Tetapi ketika tim, customer, channel, dan produk mulai bertambah, pola yang sama bisa menjadi bottleneck. Bukan karena founder tidak mampu, tetapi karena perusahaan mulai membutuhkan sistem keputusan yang lebih bisa dibaca.

Beberapa pertanyaan sederhana sering lebih berguna daripada menambah tool manajemen baru:

  • keputusan apa yang hanya boleh diambil founder?
  • keputusan apa yang bisa diambil manager tanpa menunggu approval?
  • risiko apa yang wajib naik ke owner?
  • siapa pemilik komunikasi saat ada konflik besar?
  • perubahan apa yang harus dicatat tertulis?
  • kapan adviser, legal, finance, atau tech lead perlu dilibatkan?

Pertanyaan seperti ini terdengar administratif. Tetapi saat ada tekanan, ia menentukan apakah bisnis tetap bergerak atau semua orang menunggu arahan.

Untuk perusahaan teknologi, ini makin penting karena keputusan bisnis dan keputusan teknis sering saling mengunci. Perubahan pricing bisa memengaruhi billing system. Perubahan legal bisa memengaruhi data retention. Perubahan positioning bisa memengaruhi roadmap produk. Perubahan partner bisa memengaruhi integrasi.

Jika tidak ada struktur keputusan yang jelas, tim teknis akhirnya bekerja dengan sinyal yang berubah-ubah.

Havedev biasanya melihat masalah seperti ini dalam bentuk yang lebih operasional. Bukan board conflict, tetapi dashboard yang tidak dipercaya. CRM yang isinya tidak konsisten. Automation yang berjalan tanpa owner. Website yang menghasilkan lead, tetapi tidak jelas siapa yang follow-up. Project internal yang terlihat aktif, tetapi tidak ada keputusan final.

Akar masalahnya mirip: sistem ada, tetapi kewenangan dan status kerja belum jelas.

Pelajaran dari Automattic bukan bahwa semua bisnis harus membuat board formal. Itu terlalu jauh untuk banyak perusahaan.

Pelajaran yang lebih realistis adalah: semakin penting sistem digital bagi bisnis, semakin penting juga kejelasan siapa yang mengendalikan keputusan di balik sistem itu.

Sebelum bisnis membangun dashboard, automation, CRM, atau aplikasi internal, cek dulu struktur keputusan paling dasar.

Siapa yang boleh mengubah proses? Siapa yang menyetujui data penting? Siapa yang memegang risiko legal? Siapa yang menentukan prioritas ketika sales, support, dan engineering saling tarik-menarik?

Kalau jawaban ini belum jelas, tool baru hanya akan mempercepat kebingungan.

Teknologi membantu bisnis bergerak lebih cepat. Tetapi governance yang kabur membuat bisnis bergerak cepat ke arah yang belum tentu sama.

Automattic mungkin punya skala, konteks hukum, dan dinamika founder yang jauh dari bisnis kebanyakan. Namun sinyalnya tetap relevan: kontrol yang tidak dipahami dengan jelas akan muncul kembali saat tekanan naik.

Lebih baik merapikan mandat keputusan sebelum krisis daripada baru mencari struktur saat semua orang sudah punya versi cerita masing-masing.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, automation, dan alur kerja bisnis Anda sudah punya status, owner, dan keputusan yang cukup jelas sebelum sistem dibuat lebih besar.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca